3rd fanfiction | BEHIND THE LIFE | -preview

Title: Behind The Life

Author: kyurin

Main Cast: Me as Alice Park – SJ Ryeowook as Nathan Kim – SJ Kyuhyun as Marcus Jo – SJ Eunhyuk as Spencer Lee – SJ Sungmin as Vincent Lee

Minor Cast: SJ Members & SNSD Members (Jessica, Tiffany, Sunny)

Genre: VampireAU, Mystery, Adventure, Romance, Thriller (dikit)

Length: Chaptered

Rating: PG-13

Point of View: Alice Park & Author

Fanfiction Soundtrack: TRAX – Oh! My Goddess (ga nyambung -_-)

Disclaimer: I do not own all of casts in this fanfict. They belong to themselves, their entertainment group, and their family. This fanfict is just for fun. Do not sue me. I only own Alice Park. She belongs to myself. Hope all ot you enjoy the story. Thanks! 🙂

a/n: Jangan bayangin Nathan itu kaya Ryeowook yang asli. Nathan disini 50% berbeda dari Ryeowook .__. LOL XD

*~ Happy Reading ~*

“Aku tidak bercanda, Alice,” Lagi-lagi Nathan mendesah entah untuk yang keberapa kalinya dan menghela napas berat; perilakunya yang satu ini sepertinya hanya sebuah tanda kalau ia sudah lelah—lelah karena terus beradu mulut denganku sejak satu setengah jam yang lalu. Bukankah menurut pernyataannya tadi ia adalah makhluk setengah manusia yang tidak perlu bernapas?

“Apa yang kau pikirkan saat aku hampir saja membunuhmu dulu? Apa hal itu belum bisa meyakinkanmu?”

Kali ini aku tidak membalas perkataanya. Aku merasa suaraku menghilang—tiba-tiba saja rasa ketakutan yang amat sangat mencekik pita suaraku. Secara tidak sadar otakku memutar kembali ingatan tentang kejadian mengerikan itu. Dengan cepat dan berulang-ulang.

Bagaikan sebuah tayangan film yang tidak dapat kuhentikan.

“Aku memberitahumu tentang hal ini bukan tanpa alasan. Jujur saja, kami dilarang keras untuk menceritakan tentang diri kami yang sebenarnya pada manusia. Aku.. aku hanya.. tidak ingin kau terseret semakin dalam kehidupan kami—para makhluk-makhluk imortal. Dan Marcus, dia itu salah satu anggota kelompok makhluk imortal yang jauh lebih berbahaya dariku dan keluargaku,” Nathan kembali membuka mulutnya dan berkata dengan penuh penekakanan. “Tolong Alice, jangan sampai kau tertipu olehnya.”

Mendengar perkataannya aku menjadi geram. “Konyol! Bagaimana kau bisa menuduh hal yang bukan-bukan terhadap Marcus? Segala ceritamu tadi hanya sebuah mitos, Nathan! MITOS! Tidak ada yang namanya makhluk imortal dan semacamnya di dunia ini, bodoh!” Aku langsung mengeluarkan kalimat bernada pedas itu ketika aku berhasil menemukan suaraku lagi. Namun hasilnya buruk, suaraku terdengar seperti suara tikus yang sedang mencicit.

Mata Nathan menyipit—terlihat kaget mendengar ucapanku barusan. Dan aku tentunya memanfaatkan keadaan ini untuk segera pergi dari hadapannya.

“Aku harus pergi. Masih banyak hal yang perlu aku kerjakan daripada hanya sekedar berdiam di sini mendengar segala bualan-”

Aku belum menyelesaikan ucapanku saat aku menyadari tangan Nathan sudah mendarat di lenganku dan mencengkeramnya dengan kuat; suatu tindakan untuk mencegahku pergi.

“Tidak. Kau tidak boleh pergi. Aku belum selesai berbicara denganmu, Alice. Dan hal yang kubicarakan itu bukan sekedar bualan semata.” Tegasnya. Senyum ramah yang biasanya terukir di wajahnya kini telah menghilang, digantikan oleh senyum kaku di wajahnya yang pucat.

“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! Aku ingin pergi!!” Aku mulai memberontak dan berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya dari lenganku. Tapi usahaku itu sepertinya sia-sia, kekuatanku tidak sebanding dengan Nathan. Cekalannya di lenganku seperti sudah membatu, sulit sekali dilepaskan. Aku hampir saja memekik kesakitan—karena aku bisa merasakan kuku-kukunya menusuk ke dalam kulitku—saat suara sapaan bernada santai itu mengusik pendengaranku.

“Hey, Bro.”

Tanpa aku sadari Nathan telah mengendurkan cekalannya di lenganku, dan hal itu membuat Bryan dengan mudah melepaskan lenganku dari tangan Nathan.

“Tidak baik menyakiti wanita seperti itu, Nathan.” Bryan berkata sambil tersenyum, seperti seorang Ayah yang sedang menasihati anaknya. Namun senyumnya langsung memudar ketika melihat bekas memar yang sudah tercetak di lenganku.

“Kau apakan Alice-ku?!”

Aku menaikkan sebelah alisku ketika mendengar seruan Bryan barusan. Alice-ku? Sejak kapan kata kepemilikan ku itu ia lekatkan di namaku? Konyol. Ingin sekali rasanya aku menendang Bryan saat ini juga.

Nathan menyahut dengan nada datar. “Bukan urusanmu.”

“Jelas ini urusanku! Memangnya kau siapa berani menyakiti Alice-ku?”

Oke. Sepertinya aku ingin muntah mendengar kalimat Alice-ku untuk kedua kalinya dari mulut Bryan.

“Baiklah,” Nathan memilih untuk mengalah, lagi-lagi ia menghela napasnya dengan berat. “Aku minta maaf.”

Kemudian ia mengalihkan pandangannya dari Bryan. Sekarang matanya teduh itu menatapku—memohon.

“Alice, kita belum selesai. Bagaimana kalau bes-”

“Belum selesai apanya?” Bryan tiba-tiba menyela. “Kau sudah ditolak, untuk apa lagi kau membujuknya besok untuk menerima pernyataan cintamu?”

“Apa?” Aku sontak melotot, begitu juga Nathan. Dengan sengaja aku memukul lengan Bryan cukup keras. “Kau ini bicara apa?”

“Apanya?” Bryan balik bertanya dan memandangku dengan tampang bodoh. Aku langsung gondok.

“Aku pulang!”

Dengan cepat kulangkahkan kakiku meninggalkan mereka berdua. Telingaku menangkap suara Bryan yang sibuk memanggil-manggil namaku. Merasa bising, aku meraih iPod-ku di dalam saku jaket biru yang kukenakan, mengenakan earphonenya di telingaku kemudian menyetel sebuah lagu dengan volume maksimum.

Aku menghembuskan napas lelah. Sepertinya Nathan dan Bryan bersekongkol untuk membuatku kesal siang ini.

***

“Lelaki itu mengacaukan tontonan hiburanku,” Spencer tiba-tiba mendengus kesal, tangan kirinya seketika mengepal kuat membuat buku-buku jarinya memutih. “Padahal aku penasaran sampai sejauh mana dia berusaha untuk membujuk gadis itu untuk percaya segala ceritanya.”

“Aku yang mendatangkannya, kawan,” lelaki berwajah pucat di sebelah Spencer menyahut pelan. Spencer langsung menoleh sambil melotot mendengar pernyataan itu. “Apa?!”

Lelaki berwajah pucat itu juga menoleh, kemudian menatap dalam-dalam kedua bola mata Spencer. Tak lama ekspresi wajah Spencer yang semula ganas berubah sedikit melembut—tapi sayangnya hal itu hanya berlangsung 5 detik sebelum Spencer memukul kuat kepala lelaki berwajah pucat itu.

“Jangan sekali-kali mencoba mempratekkan kemampuanmu itu padaku, karena itu hanya akan berakhir percuma, Marcus!”

“Dan jangan sekali-kali mencoba untuk memukulku, karena itu juga akan berakhir percuma, Spencer,” Marcus merespon datar. “Aku mendatangkannya supaya Nathan tidak lagi banyak berbicara tentang kita. Aku takut Alice akan percaya semua itu.”

“Tunggu,” Wajah Spencer mengerenyit, berusaha mencerna setiap kata yang baru saja dilontarkan Marcus. “Kau mendatangkan Bryan? Maksudmu?… Oh!” Spencer berseru dan memutar kedua bola matanya sebal. “Kemampuanmu bertambah. Dan aku tidak.”

“Masih standar,” cetus Marcus cepat. “Tidak berbeda jauh denganmu. Aku hanya bisa mempratekkan kemampuanku sampai sejauh 5 meter. Dan untunglah posisi Bryan tidak terlalu jauh dari mereka.”

“Tetap saja aku merasa tersaingi olehmu.” Bibir bawah Spencer sedikit mencebik.

“Hei,” Marcus menyela. “Saat ini kita tidak sedang membicarakan hal tentang kemampuanku ataupun kemampuanmu.”

“Memang tidak. Ah, sudahlah lupakan,” Dengan cepat Spencer menyudahi acara rajukannya yang tidak berguna. “Lalu, kenapa tidak langsung kau pratekkan saja pada Alice? Dia juga tidak jauh darimu, bukan?”

Sebelum Marcus sempat menjawab pertanyaan temannya itu, Spencer sudah kembali mengeluarkan suara.

“Oh. Kau takut Bryan akan mengetahui segala tentang kita karena kau melihat dari kejauhan dia sudah hampir ingin menguping pembicaraan mereka,” Spencer mengangguk-angguk mengerti. “Makanya kau lebih memilih untuk segera mengalihkan perhatiannya.”

“Jangan seenaknya membaca pikiranku, Spenc!” Marcus memekik kesal.

“Pembalasan,” Spencer menyahut singkat. Kemudian dia tertawa keras. “Tapi lucu juga, melihat Bryan dipukul oleh Alice hanya gara-gara dia mengira Nathan sedang menyatakan cinta pada gadis itu. Haha.”

Marcus nyengir. “Mau bagaimana lagi, aku tidak punya ide lain. Yah, kurasa tadi aku memanfaatkan sifat cemburunya,” Lalu ia memasang tampang menyesal yang tampak dibuat-buat. “Aku sungguh keterlaluan.”

Spencer semakin terbahak. Namun ia segera menghentikan tawanya secara tiba-tiba saat ia mulai menyadari sesuatu.

“Jadi, kapan kau akan membawanya ke tempat kita?” tanya Spencer. “Aku akan membuat daftar pembagian terlebih dahulu. Aku tidak ingin Vincent lagi-lagi menyantap terlalu banyak—dia kan sangat rakus. Hhh.” Lagi-lagi Spencer mencebik.

Marcus tertawa kecil. “Yang pasti tidak malam ini, Spenc.”

“Kenapa?”

“Aku akan melihat kemampuan Nathan terlebih dahulu. Kalau aku membawanya malam ini bisa-bisa dia mengetahuinya dan mengacaukan segalanya. Kita tidak tahu sejauh mana kemampuannya itu berkerja.”

“Walaupun kemampuannya tidak dibatasi dengan jarak sejauh apapun, dia tetap tidak bisa melihat kita, Marcus. Apa kau lupa? Dennis sudah memberikan semua anggota keluarga kita perlindungan dari berbagai jenis makhluk imortal yang tidak kita kenal sebelumnya.”

“Astaga,” Marcus menganga lebar. “Pantas saja Matthew selalu memanggil namamu dengan tambahan kata ‘bodoh’, kau benar-benar bodoh Spencer Lee. Astaga.”

Spencer tercenung seketika. Kemudian berkata, “Oh. Oke, aku baru mengerti.” Lalu wajahnya berubah masam. “Nathan memang tidak bisa melihat kita tapi dia bisa melihat Alice. Yeah, itu benar. Damn it! Kenapa otakku ini berkerja sangat lambat.” Spencer mulai merutuki dirinya sendiri.

“Lagi-lagi kau membaca pikiranku,” Suara Marcus terdengar ketus. “Aku tidak suka itu, Spenc.”

“Mengorek segala pikiran seseorang itu adalah pekerjaan yang mengasyikkan, kau tahu.” Spencer terkekeh. Lalu tangannya terangkat ke udara untuk menepuk pundak Marcus.

Well. Kapanpun kau membawanya, hari itu tetap akan menjadi hari teristimewa bagi keluarga kita, Marcus Jo.”

Sudut bibir Marcus terangkat ke satu sisi. Membuat sesuatu benda tajam dan runcing yang berada di dalam mulutnya menyembul begitu saja.

“Yap, hari teristimewa yang penuh dengan darah Alice Park.”

***

Hai.. hai. Mau kasi tau FF ini bukan original ide saya, sedikit di-adaptasi dari novel Twilight Saga. Tapi jalan ceritanya aku ubah-ubah dikit.. ^.^ Konsepnya aja yang sama kkk. Dan ini baru previewnya aja. Chapter 1-nya ntar aku post tahun depan (?) /ditabok readers

P.s: Please comment after you read this FF. I don’t like silent reader… 😦

Oya, ini keterangan nama-nama bule Suju yang aku pake bwt FF ini. 😀

Dennis: Leeteuk | Casey: Heechul | Joshua: Hangeng | Jerome: Yesung | Jordan: Kangin | Matthew: Shindong | Vincent: Sungmin | Spencer: Eunhyuk | Aiden: Donghae | Andrew: Siwon | Nathan: Ryeowook | Bryan: Kibum | Marcus: Kyuhyun

Advertisements

About sehvnhan

Just a little girl who lives in her imagine world.

Posted on March 8, 2011, in Behind The Life, Fanfiction and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. ksatria okatchie

    Lanjutan Asap!

  2. marchellyne kim

    okeeh omma memutar otak 180 drajat . bgus critana , complicated , seruu . ayo lanjutkan nakk ! *peluk wookie*

    • OMMA! Akhirnya dirimu datang… (?)
      Hah.. bagus? Aku ngerasa ini ff aneh banget -_____-a
      Tapi sipp lah ntar aku post lanjutannya 😉 Gomawo omma dah baca :**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: