FF setengah mateng (?) -belom ada judulnya keke-

Disclaimer: I do not own all of casts in this fanfict. They belong to themselves, their entertainment group, and their family. This fanfict is just for fun. Do not sue me. Hope all of you enjoy the story. Thanks! ^^

Summary: Because basically the word “Love” was not only pronounced.

-Happy Reading-

“Ini salah. Ini tidak benar. Semua ini tidak akan berlangsung lama. Sejak awal Ia sudah tahu kalau Ia hanya dijadikan boneka mainan olehnya. Sejak awal Ia sudah tahu kalau perhatiannya terhadap Ia akhir-akhir ini hanya sebuah kepalsuan. Ia tahu. Tapi, entah mengapa rasa cinta itu masih melekat di hatinya. Sulit dilepas. Seakan ada sebuah gembok yang mengunci rasa cinta itu, menjaganya agar tidak pergi dari hatinya.

Gadis itu berjalan dengan langkah yang pelan, sedikit gugup ketika memasuki ruangan sunyi senyap itu. Ia menghela napasnya resah. Ini pertama kalinya ia menjejakkan kakinya di sebuah ruangan bernama ‘Perpustakaan’, ruangan yang paling enggan di datanginya seumur hidup.

Kedua bola mata gadis itu kini tengah menyusuri setiap sudut Perpustakaan, mencari sosok seorang laki-laki yang menjadi alasan kenapa ia datang kesini. Dan dua detik kemudian matanya terpaku pada satu titik, itu dia… Laki-laki itu sedang membaca sebuah buku novel –yang bisa di perkirakan setebal 3cm- di dekat jendela Perpustakaan.

Lagi-lagi perasaan gugup tadi kembali menderanya, keberaniannya untuk menghampiri laki-laki itu tiba-tiba saja menciut. Ia mendesah pelan, kenapa ia selalu saja berlaku seperti ini saat ingin mencoba berkomunikasi dengan laki-laki itu?

“Oh, ayolah…” Gadis itu berbicara kepada dirinya sendiri sambil mencoba menekan perasaan gugupnya. Dengan keberanian yang di buat-buat, ia kembali melangkahkan kakinya menghampiri laki-laki itu.

Satu langkah… Dua langkah… Tiga langkah… Ya, sudah hampir dekat. Perasaan gugup gadis itu semakin terasa menggebu-gebu. Dan jantungnya hampir saja ingin meloncat keluar saat laki-laki itu menoleh ke arahnya, seperti telah menyadari ada yang mendekatinya.

Langkah gadis itu lagi-lagi terhenti. Sempat ada jarak waktu 2 menit mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa berbicara sedikit pun. Merasa heran, laki-laki itu mengangkat alis, sementara wajahnya mengeluarkan tampang bertanya-tanya. Dan gadis itu pun dengan susah payah mencoba untuk segera mengeluarkan suaranya, sebelum keadaan di antara mereka berdua malah menjadi aneh.

“Eh, h-hai… Nathaniel.”

Finally… Gadis itu akhirnya berhasil menyapa Nathaniel–seorang laki-laki yang sudah menyita perhatiannya sejak sebulan yang lalu. Haruskah ia merayakan keberhasilannya setelah ini?

-to be continued-

Advertisements

About sehvnhan

Just a little girl who lives in her imagine world.

Posted on December 8, 2011, in Fanfiction and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: