[FF/1/PG-13] Because I Hear Ur Heart

Because I Hear Ur Heart

Author: kyurin

Cast: Cho Kyuhyun (Super Junior)/Han Hyeri (OC)

Genre: Romance, Friendship

Length: 1/?

a/n: Author bikin ini ff, bener-bener nguras otak. Jadiii, author minta tolong banget buat reader yang udah baca, tinggalin jejak ya. Jangan jadi silent reader ^__^

Oh iya, yang belum baca prolog ff ini, bisa baca disini.

-happy reading-

*

Taksi berwarna biru cerah itu mulai berjalan perlahan, melewati jalanan kota Seoul yang tampak agak lebih padat daripada biasanya. Cho Kyuhyun, sang penumpang taksi tersebut, dengan sengaja membuka kaca jendela taksi itu lebar-lebar, seketika itu juga pancaran sinar matahari yang terik langsung menyilaukan matanya.

Seoul tidak banyak berubah, itulah kata pertama yang terlintas di pikiran Kyuhyun saat memperhatikan suasana kota Seoul lewat kaca jendela taksi. Tidak banyak yang berubah dari kota kelahirannya ini sejak ia tinggal pergi ke Austria 3 tahun lalu. Well, selama ini Kyuhyun tinggal bersama keluarganya di Austria-mengikuti Ayahnya yang bekerja disana. Sebenarnya dalam waktu ini, tidak ada rencana keluarganya pulang ke Seoul, tapi ada sesuatu yang membuat Kyuhyun harus kembali kesini. Sesuatu yang sangat penting, lebih dari apapun.

Selagi masih asik memerhatikan kota Seoul, dering ponsel Kyuhyun yang berbunyi secara tiba-tiba membuatnya agak terkesiap. Dengan tangkas tangan Kyuhyun merogoh-rogoh saku celananya, mengambil ponselnya. 1 message received.

Sender: Ahra Cho

Kyuhyunnie, kau sudah sampai di Seoul?

Tidak butuh waktu yang lama untuk Kyuhyun mengetik balasan pesan tersebut. Setelah memastikan pesan balasannya sudah terkirim ke Noona-nya, Kyuhyun mengembalikan layar ponselnya dari folder pesan ke menu awal. Dan saat itulah ia menjadi tersenyum-senyum sendiri ketika melihat wallpaper ponselnya, wallpaper itu adalah foto dirinya sendiri yang sedang merangkul seorang perempuan.

Kyuhyun mengusap-ngusap layar ponselnya; tepat pada wajah perempuan itu. Perempuan itulah satu-satunya alasan mengapa ia kembali lagi Seoul. Perempuan yang sudah dipacarinya sejak 4 tahun yang lalu.

Choi Jihyun, bogoshipda…

“Ahjussi! Tolong berhenti sebentar!” tiba-tiba Kyuhyun berteriak keras sambil menepuk-nepuk pundak supir taksi dengan tampang kalut saat pandangannya secara tidak sengaja tertuju ke sebuah toko bunga di seberang jalan yang baru saja mereka lewati. Sang supir taksi terkesiap, lalu memberhentikan taksinya setelah sebelumnya memberikan pandangan bertanya-tanya pada Kyuhyun.

Bukan toko bunga itu yang menjadi pemandangan menarik untuk Kyuhyun, tapi seorang gadis yang berdiri di depan toko bunga itu. Gadis itu tidak sendiri, ada seorang pria–yang Kyuhyun perkirakan seumuran dengannya merangkul mesra gadis itu.

Entahlah, tapi Kyuhyun merasa sangat familiar dengan wajah gadis itu.

“Jihyun…?” nama itu meluncur begitu saja dari mulut Kyuhyun. Sedetik kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mana mungkin gadis yang di lihatnya itu adalah gadisnya?

“Ahjussi, jalan…”

Supir taksi tadi kembali menjalankan mobil taksinya setelah di perintahkan Kyuhyun. Walaupun mobil taksi itu sudah melesat hampir meninggalkan kawasan yang dekat dengan toko bunga tadi, Kyuhyun masih tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia melongokkan kepalanya ke belakang,  dan dilihatnya gadis itu masih ada di sana bersama pria itu.

Kyuhyun mendesah. Walaupun sudah berkali-kali ia mengatakan pada dirinya sendiri kalau gadis itu bukan Jihyun, otaknya terus saja berpikiran itu Jihyun.

Kyuhyun meraba-raba kocek jaket hitamnya, mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, senyum Kyuhyun langsung merekah.

“Jagiya~”

Ia menciumi PSP itu, menganggapnya seperti benda hidup. Kemudian Kyuhyun menekan salah satu tombol di PSP itu dan mulai asik memainkan permainan Starcraft yang ada di dalamnya–suatu hobi yang belum bisa di hilangkannya dari saat dia masih kecil. Sambil berharap otaknya bisa berhenti memikirkan gadis tadi.

“Mana barang itu?”

Rasanya Kyuhyun sudah menggeledah hampir seluruh isi di dalam koper yang ia bawa dari Austria, tapi ujung-ujungnya tetap saja ia tidak menemukan barang yang ia cari-cari sedari tadi. Kyuhyun menghela nafasnya lelah.

“Mencari apa sih?”

Suara tenor yang terdengar tiba-tiba itu cukup membuat Kyuhyun terkesiap kaget. Ia menolehkan kepalanya sedikit ke arah belakang, dan mendapati Hyung-nya, Kim Ryeowook, sedang berdiri di depan pintu kamarnya lengkap dengan baju memasak yang melekat di tubuhnya.

Ya, selama berada di Seoul, Kyuhyun untuk sementara tinggal di apartment temannya itu–karena ia tidak tahu mesti tinggal di mana lagi karena hampir seluruh keluarganya tidak tinggal di Seoul. Di sini Ryeowook tidak tinggal sendiri, masih ada satu orang temannya yang sedari dulu sudah menempati apartmentnya ini bersamanya.

“Err, aku mencari… Benda yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Dan barang itu berharga,”

“Sebut saja apa nama barangnya, Kyuhyun-ah,” sahut Ryeowook cepat. Kedua kakinya melangkah masuk ke dalam kamar Kyuhyun, dan ia juga mulai menggeledah koper Kyuhyun yang ukurannya lumayan besar. Membantu mencarikan barang Dongsaengnya itu.

Air muka Kyuhyun berubah, entah kenapa atmosfir wajahnya mendadak terasa lebih panas saat ia menyebutkan kata, “Cincin.”

Ryeowook tampaknya tidak sadar dengan perubahan muka Kyuhyun yang mendadak itu, ia malah terus mencari barang yang di sebutkan Kyuhyun di dalam kopernya. Setelah 5 menit berlangsung, ia menyerah. Cincin itu tidak ada di manapun.

“Kau yakin kau menyimpan cincinmu itu di kopermu?” tanya Ryeowook.

Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Entahlah,” ia menjawab simpel.

Langsung saja Ryeowook menoyor kepala Kyuhyun dengan spatulanya yang tadi ia simpan di baju memasaknya. “Babo. Terakhir kau simpan dimana benda itu?”

Kyuhyun meringis, menahan sakit di kepalanya yang baru saja kena toyor Hyung-nya. “Di ko… cek,” dengan refleks kedua tangannya langsung masuk ke dalam kocek jaketnya. Lagi-lagi ia tidak menemukan apa-apa selain PSP-nya.

PSP?

“Jangan-jangan…”

Ryeowook mengangkat alis, menunggu kata-kata Kyuhyun yang selanjutnya.

Kyuhyun mendadak kalut, “Hyung, aku pergi dulu sebentar!”

Ryeowook langsung melongo. “Hei, hei, kau mau kemana, Kyuhyun-ah?”

Tentu saja Ryeowook tidak mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaannya itu, setelah mengucapkan kalimatnya yang terakhir, Kyuhyun langsung melesat pergi meninggalkannya dengan kecepatan berjalan yang seperti angin. Ryeowook hanya dapat mendengar suara pintu apartmentnya yang di tutup dengan kuat. Pria itu mendesah, ia bersumpah, kalau pintu apartmentnya kenapa-kenapa, Kyuhyunlah satu-satunya orang yang akan ia cekek.

BRAK!

Karena terburu-buru tanpa sengaja Kyuhyun menutup pintu apartment Ryeowook terlalu keras. Sebelum berjalan lebih jauh, ia mengecek pintu itu sebentar, berharap tidak ada lecet sedikitpun. Great! Sama sekali tidak ada lecet, sesuai harapannya. Kyuhyun berbalik, dan lagi-lagi tanpa sengaja bahunya menubruk bahu seseorang gadis yang tengah berjalan melewatinya. Gadis itu kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng dan akhirnya ia terjatuh dengan posisi terduduk. Beberapa kertas-kertas yang ia bawa juga ikut terjatuh dan menyebar di lantai koridor apartment itu.

Kyuhyun menghela nafasnya, mau tidak mau ia harus membantu membereskan kertas-kertas gadis itu terlebih dahulu.

“Ouh,” gadis itu mengaduh kesakitan, ia mencoba bangkit berdiri kembali namun gagal. Mendadak ia merasa pinggangnya encok.

“Maaf, mari kubantu,” sebuah tangan terulur ke depan gadis itu. Gadis itu mendongak, menatap sesosok pria yang wajahnya cukup tampan di depannya. Pria yang tadi tidak sengaja menubruknya. Entah sejak kapan atmosfir di wajah gadis itu mulai berubah, yang tadinya biasa saja sekarang malah terasa panas.

Tanpa berbicara, gadis itu menepis pelan tangan Kyuhyun yang tadinya ingin membantunya berdiri. Kedua matanya yang sedang menatap Kyuhyun seakan mengatakan, ‘Aku bisa berdiri sendiri’.

Dan ia membuktikannya, gadis itu bangkit berdiri dengan seluruh kemampuannya. Kyuhyun yang merasa pertolongannya tidak di anggap, membuang muka dari gadis itu. Kemudian dengan kasar ia meletakkan kertas-kertas milik gadis itu di tangannya, “Ini!”

“Lain kali lebih hati-hati kalau berjalan agar tidak tertubruk seperti tadi,” Kyuhyun mengatakan itu sambil lalu menuju lift apartment.

Gadis itu, yang merasa di jadikan pihak yang di salahkan atas kejadian tadi, bersungut-sungut sendiri. Bibirnya bawahnya mencebik, kalau saja ia bisa mengeluarkan kata-kata makian untuk pria sialan itu…

‘TING!’

Pintu lift yang di masuki Kyuhyun telah tertutup, dan mulai bergerak menuju lantai bawah. Senyum miring Kyuhyun mendadak tercipta. Entahlah, rasanya lucu melihat gadis tadi mencebik. Sekilas mirip dengan Janey–keponakannya di Austria saat sedang ngambek. Tapi di matanya gadis itu lebih imut dari Janey saat mengeluarkan ekspresi ngambek seperti tadi.

Apa? Imut?

Kyuhyun mulai memfokuskan pikirannya kembali pada cincin yang di carinya tadi. Ia yakin 100% kalau cincin itu terjatuh di dalam taksi yang di tumpanginya tadi saat ia mengeluarkan PSP dari kocek jaketnya. Kyuhyun benar-benar berharap, taksi itu masih ada di kawasan apartment. Kalau tidak ada… Entah harus dimana lagi Kyuhyun mencari taksi itu. Bagaimanapun juga ia harus menemukan cincin itu, karena cincin itu akan di berikannya pada gadisnya.

Ia ingin melamar Jihyun.

Kyuhyun ingin hubungannya dengan gadisnya lebih terikat dari yang namanya pacaran. Dan kalau waktunya sudah tepat, Kyuhyun akan membawa gadisnya ke Austria, mengajaknya menikah di sana.

Membayangkan ia di masa depan akan menjadi seorang suami dengan Jihyun istrinya saja sudah mampu membuat Kyuhyun tersenyum-senyum sendiri.

‘TING!’

Pintu lift kembali terbuka, dengan langkah–yang lagi-lagi seperti angin Kyuhyun melesat keluar dari lift dan berjalan menuju keluar apartment.

Raut kecemasan seketika tercipta di wajah Kyuhyun saat matanya tidak menangkap keberadaan taksi tadi di sekitar apartment. Lagi-lagi kedua matanya memandang ke sekitar, memastikan kembali kalau taksi itu sudah pergi atau belum. Dan ya… Taksi itu benar-benar sudah pergi. Kyuhyun menelan ludah, dan ia mulai mengutuki dirinya sendiri yang tadi bermain PSP di dalam taksi. Kalau saja dia tadi tidak…

Pandangan Kyuhyun terhenti pada suatu pemandangan yang membuat wajahnya berubah dari cemas menjadi merah padam. Pria dan wanita itu saling berciuman, di tempat umum, tepatnya di dalam mobil. Kyuhyun sama sekali tidak mengenal siapa mereka berdua, tapi seperti ada sesuatu yang menarik sehingga Kyuhyun terus membiarkan kedua matanya terus memerhatikan kedua pasangan yang tengah berciuman itu.

Begitu sang pria mengangkat wajahnya dari gadis di depannya itu, Kyuhyun terkesiap kaget. Pria itu… Kyuhyun mengenalnya. Pria itu adalah pria yang sama seperti yang di lihatnya di toko bunga tadi siang dari taksi. Kyuhyun makin terkesiap saat gadis yang menjadi pasangan ciuman pria itu menolehkan kepalanya ke luar jendela mobil yang terbuka. Gadis yang tadi siang di bilang mirip Jihyun oleh Kyuhyun.

Tidak salah lagi, itu memang Jihyun. Dalam jaraknya yang tidak jauh dari mobil pasangan itu, Kyuhyun bisa melihat jelas syal biru yang melilit di leher gadis itu, syal yang dulu di berikannya sebagai hadiah ulang tahun gadis itu 3 tahun lalu.

Itu memang Jihyun. Mendadak Kyuhyun merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Itu memang Jihyun… Itu memang Jihyun… Kata-kata itu terus terulang-ulang di otaknya, membuatnya pusing. Ia berharap, yang ia lihat sekarang ini hanyalah sebuah mimpi.

Kalau ini nyata, rasanya Kyuhyun lebih baik mati saja. Ia benar-benar tidak mampu menahan sesak yang sekarang tengah  bergumul di dadanya.

Dengan langkah berat, Kyuhyun memberanikan diri menghampiri mobil itu. Pria itu yang pertama kali yang menyadari seseorang yang tidak di kenalnya tengah berjalan menghampiri mobilnya. Kedua alisnya terangkat naik, ia melemparkan pandangan bertanya-tanya pada Kyuhyun.

Gadis itu menangkap keanehan dari wajah prianya, ia mengikuti arah pandang pria itu dan seketika saja kedua matanya langsung membola. Secara tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan pria yang 3 tahun lalu sudah meninggalkannya ke Austria.

“Cho Kyuhyun…” ada rasa ketakutan, kerinduan, serta kecemasan yang bercampur menjadi satu saat ia menyebut nama itu. Dilihatnya Kyuhyun tersenyum getir menatapnya, wajahnya… Rasanya gadis itu ingin menenggelamkan dirinya ke laut saat melihat wajah sendu itu. Gadis itu tahu, ia sudah menyakiti hati Cho Kyuhyun, pria yang sampai saat ini masih berada urutan teratas di hatinya. Walaupun sekarang ada seorang lagi yang sepertinya bakal merangkak naik ke urutan itu.

“Jadi ini yang kau lakukan saat aku di Austria?”

-to be continued-

Advertisements

About sehvnhan

Just a little girl who lives in her imagine world.

Posted on December 15, 2011, in Because I Hear Ur Heart, Fanfiction and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: