[FF/Oneshoot/PG-13] 2 Years

2 Years

Cho Kyuhyun – Han Hyeri – Kim Ryeowook

Don’t like? Don’t read

Hope all of you enjoy this story

And don’t forget, don’t copy this ff without my permission, okay?

Thanks

*

“Kupikir, dalam 2 tahun terakhir ini kau mencintaiku seutuhnya,” pandangan sendu itu kini beralih ke arahku, menelusuri setiap inch wajahku. “ternyata aku salah.”

Aku menunduk, mencoba untuk tidak melihat pandangan sendu itu. Entahlah, memandangnya yang seperti itu rasanya mampu membuat oksigen di sekitarku menghilang. Apalagi mengetahui akulah satu-satunya penyebab ia bersikap seperti itu, aku semakin tidak bisa bernafas dengan benar.

Pria itu terkekeh pelan, “Seharusnya sedari dulu aku sudah tahu, yang kau cintai itu Cho Kyuhyun, bukan Kim Ryeowook.”

Cho Kyuhyun, si bodoh itu.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?”

Untuk beberapa saat, aku mengunci mulutku rapat-rapat–tidak tahu bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya itu.

“Hyeri-ah,” suaranya mulai terdengar jengah saat memanggil namaku. “jawab pertanyaanku.”

Aku menelan ludah, kata-katanya yang terakhir penuh penekanan dan terdengar sangat memaksa. Aku mencoba membuka mulutku, dan mengeluarkan beberapa kata setelah sebelumnya menghela nafas gugup terlebih dahulu.

“A-aku… Hanya tidak ingin menyakitimu, Oppa..” kataku terbata sambil menunduk, masih tidak berani menatap wajahnya.

“Tidak ingin menyakitiku?” sela Ryeowook Oppa. “Tapi, apa kau tahu saat aku mengetahui kebenarannya setelah 2 tahun itu lebih terasa menyakitkan?”

Ryeowook Oppa mengulurkan sebuah buku berwarna biru muda ke hadapanku–buku diaryku, yang di dalamnya hanya berisi tentang pria bodoh bernama… Cho Kyuhyun. Yang menjadi penyebab kenapa Ryeowook Oppa memandangku dengan pandangan sendu itu.

“Sepertinya semuanya memang harus sampai disini,” katanya seraya menghela nafas panjang. Aku menahan nafasku, mulai merasa tidak enak saat mendengar perkataannya itu. Jangan bilang kalau dia…

“Han Hyeri,” lagi-lagi aku mendengar ada nada jengah saat ia mengucapkan namaku itu.

“Mulai detik ini, kau dan aku… Sudah selesai.”

“Ryeowook Hyung menyukaimu.”

Aku yang sedang menuliskan beberapa jadwal perform Super Junior bulan ini di dalam sebuah notes sontak menghentikan pekerjaanku itu. 3 kalimat yang baru saja di lontarkan oleh pria di sebelahku ini mampu membuat kinerja tanganku membeku secara mendadak. Aku mengalihkan pandanganku dari notes yang berisi seabrek jadwal Super Junior ke arah pria itu.

“Kau. Jangan. Bercanda, Cho Kyuhyun-ssi,” aku berucap penuh penekanan.

“Aku serius,” sela Kyuhyun cepat. “aku serius saat aku mengatakan, Ryeowook Hyung menyukaimu, Manager-ssi.”

Kini pandanganku teralih kembali pada notesku, mencoba memusatkan perhatianku pada tulisan-tulisan yang ada di dalam notes itu. Untuk beberapa saat, aku berhasil memfokuskan diriku dan mengabaikan perkataan Kyuhyun tadi sebelum pria itu kembali mengucapkan kata-kata yang sama untuk ketiga kalinya.

“Sekali lagi kubilang, Ryeowook Hyung menyukaimu. Kenapa tanggapanmu hanya seperti ini?”

Aku mendesah.

“Lalu aku harus bagaimana?” aku malah balik bertanya dengan nada jengah. Haruskah aku melompat kesenangan karena mendengar ada salah satu member Super Junior yang menyukaiku? Tidak, tidak. Itu terlalu kekanakan. Lagipula, selama ini Ryeowook Oppa hanya aku anggap sebagai Oppa-ku.

“Tidakkah kau senang karena hal itu?” maknae Super Junior itu menautkan kedua alisnya, merasa heran. “Bagaimana kalau kukatakan, aku yang menyukaimu?”

Mendadak, atmosfir di wajahku terasa lebih panas dari sebelumnya. Bagaimana bisa ia menggodaku seperti ini?!

Aku sudah ingin menyambit kepalanya dengan sepatu ketsku kalau saja Kyuhyun tidak segera mengucapkan kalimat ini, “Ya~ mianhae. Aku hanya bercanda, Hyeri-ah,” kemudian ia tertawa geli, membuatku sebal.

“Cho Kyuhyun!” aku mendesis kesal. Aku tidak memanggil namanya dengan embel-embel Oppa, karena ia sendiri yang memintaku untuk tidak memanggilnya seperti itu. Lagipula, umur kami hanya terpaut 1 tahun. Tentu saja dia yang lebih tua dariku.

“Hyeri-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya setelah berhasil mengusai dirinya untuk tidak tertawa lagi. Aku mengangguk singkat, “Nae… Tentu.”

“Bagaimana perasaanmu terhadap Ryeowook Hyung?”

Aku mendesah lagi. Lagi-lagi topiknya beralih kesitu. Aku mengetuk-ngetuk bolpoinku di atas meja makan seraya memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan atas pertanyaan Kyuhyun itu.

‘Perasaanku terhadap Ryeowook Oppa?’

“Kulihat, di antara member Super Junior, yang paling dekat denganmu itu Ryeowook Hyung,” ucap Kyuhyun sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya. “aku yakin 100% kau ada menaruh perasaan dengannya, Manager-ssi.”

“Tidak,” sanggahku cepat. Kulihat Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, seolah mengatakan, ‘Oh ya?’

“Selama ini… Aku menganggap Ryeowook Oppa hanya sebagai Oppa-ku,” kali ini kulihat Kyuhyun menghela nafasnya… Lega?

“Lalu, lalu, bagaimana perasaanmu terhadap member Super Junior yang lain?” ia mulai bertanya dengan nada antusias. “Terutama aku… Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

Lagi-lagi kurasakan wajahku memanas. Aish! Ia menggodaku lagi? Ba-bagaimana bisa aku menjawab pertanyaannya yang satu itu?!

Bagaimana bisa aku mengatakan kalau perasaanku terhadapnya itu… Melebihi perasaanku terhadap Ryeowook Oppa?

“Ah…” erangan pelan itu sedikit membuatku dan Kyuhyun terkesiap. Sudut mataku menangkap sosok Donghae Oppa yang sepertinya ingin berjalan memasuki dapur–tempatku dan Kyuhyun berada kini. Kaki kanannya terhenti di udara secara mendadak, seperti ragu untuk melangkah lebih ke dalam dapur.

“Apa… Kedatanganku menganggu kalian?” tanya Donghae Oppa dengan tampang bersalah.

Dengan cepat, Kyuhyun beranjak berdiri dari kursi yang di dudukinya di sebelahku. Aku bisa mendengar ada nada salah tingkah saat ia merespon pertanyaan Donghae Oppa tadi.

“Menganggu apanya?” tanyanya balik. Kemudian kakinya melangkah menuju kulkas, mengambil sekaleng coca cola lalu meneguknya setengah dalam satu tegukan. “Aku dan Hyeri-ssi hanya sedang mengobrol biasa, bukannya mengobrol sesuatu hal yang rahasia, Hyung. Jadi kau sama sekali tidak menganggu.”

Donghae Oppa mengangguk mengerti, lalu beberapa detik kemudian seorang pria yang merupakan couple-nya di Super Junior datang memasuki dapur dengan langkah ceria sambil menenteng sebuah kotak yang ukurannya cukup besar di tangannya.

Eunhyuk Oppa tersenyum lebar, sampai memperlihatkan gusi-gusi giginya itu. “Aku mendapatkan hadiah kue ini dari seorang ELF yang kutemui di depan dorm. Kupikir kue ini terlalu besar untuk kuhabiskan sendiri. Apa kalian mau membantuku menghabiskannya?”

“Hanya berempat? Rasanya tidak adil,” sela Donghae Oppa. Lalu matanya melirik Kyuhyun yang baru saja selesai meneguk habis cola-nya. “Kyuhyun-ah, panggil member Super Junior yang lain.”

Entah kenapa saat ini jantungku berdetak melebihi skala normal ketika aku berdekatan dengan Ryeowook Oppa. Tidak seperti biasanya.

Pesta kue yang di adakan secara mendadak oleh Eunhyuk Oppa bersama member Super Junior yang lain tadi sudah selesai sekitar 10 menit yang lalu. Dan disinilah aku sekarang, mencuci semua piring bekas pesta itu bersama Ryeowook Oppa. Sementara member lainnya tengah bersantai menonton televisi di ruang tengah. Aku mulai merutuki diriku sendiri, kenapa aku bisa kalah suit tadi?

Seperti hari-hari biasanya, tugas mencuci piring ini selalu di tentukan dengan permainan suit antara aku dan para member Super Junior. Yang kalah suit itulah yang harus mencuci piring, dan hasil akhir dari permainan suit tadi akulah yang kalah.

Ryeowook Oppa, yang hatinya seperti malaikat itu dengan senang hati mengatakan mau membantuku mencuci piring-piring itu. Saat itulah aku mulai berharap, Ryeowook Oppa bisa mengubah sifat malaikatnya menjadi sifat evil seperti yang di miliki Kyuhyun.

Entah kenapa, setelah di beritahu oleh Kyuhyun tentang Ryeowook Oppa yang menyukaiku tadi, rasanya… Aku tidak ingin berdekatan dulu dengan pria itu.

“Bagianmu sudah selesai, Hyeri-ah?” pertanyaan Ryeowook Oppa berhasil membuatku terkesiap kaget. Aku mencoba memfokuskan pandanganku pada piring yang sedang kucuci ini. Baru piring kedua, sementara masih ada 3 piring lagi yang mesti kucuci.

Aku melirik Ryeowook Oppa sekilas, ia tengah membersihkan tangannya dari sisa sabun cuci tadi. Berarti ia sudah mencuci semua bagian piringnya. Wajahku seketika memanas, merasa malu. Bagaimana bisa tangan seorang pria lebih cekatan dari tangan seorang wanita?

“Belum, Oppa. Masih ada 3 piring lagi,” jawabku pendek.

Ryeowook Oppa tertawa kecil, “Yasudah. Sini kubantu,” katanya yang membuat tangan kananku refleks menahan kedua tangannya yang hendak mengambil piring-piring bagianku.

“Tidak usah! Biar aku yang menyelasaikannya sendiri. Sebaiknya Oppa tidur saja, besok kau ada jadwal di pagi hari kan?”

“Eung~ ya,” Ryeowook Oppa mengangguk singkat. “tapi aku belum mengantuk, Hyeri-ah.”

Aku menarik nafasku jengah, “Jangan beralasan, Oppa.”

“Aku tidak beralasan,” sanggah Ryeowook Oppa cepat. “Baiklah, baiklah. Kalau kau memang tidak ingin di bantu olehku, biarkan saja aku tetap di sini, menunggu sampai kau selesai mencuci piring-piring itu. Setelah itu, kuantar kau pulang ke apartment-mu.”

Walaupun berkerja sebagai manager Super Junior, aku tidak tinggal di dorm mereka. Siapa yang berani menjamin aku akan baik-baik saja saat tinggal satu atap bersama 13 orang pria? Meskipun aku tahu mereka adalah orang baik-baik, tetap saja mereka itu PRIA.

Aku meliriknya sekilas. “Yaya~ terserah Oppa sajalah.”

Sempat ada jarak waktu beberapa menit kami berdua hanya diam tanpa ada sebuah topik yang bisa di bicarakan. Aku merasa jengah dengan situasi seperti ini, apalagi Ryeowook Oppa terus-terusan saja memandangku yang sedang mencuci piring. Membuatku salah tingkah.

“Hyeri-ah,” panggilnya, akhirnya memecahkan kebisuan di antara kami. “apa kau tau sesuatu?”

“Tidak,” jawabku cepat dengan nada polos, membuat Ryeowook Oppa menyunggingkan senyum tipisnya.

“Apa kau tau… kalau aku,” ia menggantungkan kalimatnya. Aku menunggu kalimat selanjutnya tidak sabar. Aku paling tidak suka saat seseorang bicara dengan gantung seperti itu.

“Kalau aku… Sedang menyukai seorang gadis?”

Deg. Deg. Deg.

Mendengar itu, jantungku berdetak semakin cepat setiap detik. Aku berharap suara detakannya takkan sampai di dengar oleh Ryeowook Oppa.

Ya Tuhan, jangan sekarang.

“Ah!” aku mengeluarkan ekspresi terkejut yang di buat-buat. “Siapa dia? Gadis itu beruntung sekali di sukai olehmu, Oppa,” aku mencoba untuk tersenyum sumringah. Ya Tuhan, jangan sampai ia mengatakan itu sekarang…

Lagi-lagi ia mengeluarkan senyum itu, senyum tipis khas Kim Ryeowook.

“Gadis itu… Bukanlah gadis tercantik yang pernah kulihat,” ia mulai menerawangkan pandangannya ke langit-langit dapur. “tapi entah kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya. Padahal aku pernah mengatakan ke publik, kalau tipe gadis idealku itu seperti Tiffany SNSD. Dan gadis itu… sangat jauh dari Tiffany,” Ryeowook Oppa terkekeh pelan.

“Gadis itu memang bukan gadis yang cantik, tapi dia manis sekali. Hanya dengan melihat senyumnya saja, sudah mampu membuat hariku yang tadinya suram menjadi indah,” kemudian pandangannya teralih padaku, lalu terkekeh lagi. “sepertinya berlebihan, ya?”

Aku tidak menghiraukan pertanyaannya itu dan malah tetap fokus mencuci piring terakhir. Sementara jantungku masih saja berdetak cepat, seiring dengan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya tentang ‘gadis yang disukainya itu’.

“Sejak awal, sejak aku melihatnya untuk pertama kali, aku sudah mengatakan pada diriku sendiri, ‘Dia adalah takdirmu, Wook-ah’ dan berjanji akan berusaha mendapatkan dirinya bagaimanapun caranya,” kemudian ia menghela nafasnya.

“Hyeri-ah,” panggilnya lagi. “Kaulah gadis itu. Aku menyukaimu, Han Hyeri.”

“Seharusnya aku bisa mengatakannya pada Hyeri lebih cepat.”

Kalau saja suara yang sudah sangat kukenali itu tidak menyebut-nyebut namaku secara gamblang, mungkin saat ini aku sedang tidak berada di depan pintu kamar ini, menguping pembicaraannya dengan seseorang.

“Ya~” suara lain terdengar di telingaku. Suara Heechul Oppa. “Sudahlah, jangan terus-terusan memasang tampang frustasi seperti itu. Kau masih bisa mencari yang lain, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun tertawa kaku. “Kalau saja aku bisa, Hyung.”

Apa maksud dari pembicaraan mereka itu? Kenapa Kyuhyun sampai membawa-bawa namaku?

Untuk beberapa saat aku tidak lagi mendengar salah satu dari mereka membuka suaranya. Aku semakin menempelkan telingaku lebih dekat pada pintu, benar-benar tidak ada suara apapun. Sepertinya percakapan di antara mereka sudah selesai. Aku sudah berniat pergi menjauh dari kamar itu sebelum kepergok sedang menguping, tapi tiba-tiba saja pintu itu menjeblak terbuka dari dalam. Membuatku tidak bisa lagi menahan keseimbangan tubuhku.

Secara refleks, tangan itu memegang erat lenganku, menahanku agar tidak terjatuh.

“Ya!” Heechul Oppa berteriak kaget. “Apa yang kau lakukan disini?”

“A-aku…” suaraku mendadak tercekat di tenggorokan. Haruskah aku mengaku kalau tadi aku sedang menguping?!

“Hyeri-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun yang masih memegang lenganku. Aku menggeleng, “Na gwaenchana,” lalu tanganku meraih tangannya, melepaskannya dari lenganku. “tidak perlu memasang tampang khawatir seperti itu,” aku tertawa kecil melihat wajahnya yang mengeluarkan ekspresi khawatir yang menurutku berlebihan.

“Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku, Han Hyeri!” Heechul Oppa memandangku dengan pandangan menuntut. Tapi tak lama setelah itu mendadak ekspresinya berubah, ia membulatkan mulutnya lalu mengangguk-angguk. “Aiyaa, sepertinya aku tahu. Kau sedang menguping pembicaraan kami, ya kan, Hyeri-ah?”

Pertanyaan yang sangat menohok. Aku refleks menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat. “A-ani! Aniyo Heechul Oppa! Aku tidak menguping,” aku mengembungkan kedua pipiku. Berpura-pura merajuk karena telah di tuduh sembarangan. Padahal, err… tuduhannya itu benar adanya.

Heechul Oppa tertawa keras mendengar jawabanku. Ia melirik Kyuhyun, lalu menatapnya dengan pandangan menggoda. “Kau tidak perlu lagi susah-susah mengatakannya, Kyuhyun-ah. Dia sudah mendengar semua yang kita bicarakan tadi,” kemudian tertawa lagi.

“Ya! Hyung!” Kyuhyun memberikan tatapan membunuhnya. Lalu ia menunduk, siap untuk melepaskan sepatunya dan melemparkannya ke Hyungnya itu. Heechul Oppa yang sudah tahu apa yang akan di lakukan Kyuhyun buru-buru pamit pergi.

“Yah, aku lupa aku ada janji dengan Leeteuk Hyung untuk menemaninya mencari makan di luar. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Kyuhyun-ah, Hyeri-ah. Annyeong!”

Melihat Heechul Oppa yang sudah melesat pergi seperti angin, Kyuhyun mendesis kesal. “Aish!”

Sementara aku, yang sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah kedua manusia itu kali ini tidak bisa lagi menahannya, aku tertawa sekencang-kencangnya. Membuat Kyuhyun menatapku bengis.

“Ya! Kenapa kau malah tertawa, eh?”

“Ani, ani. Mianhae,” aku berusaha mengusai diriku untuk tidak tertawa lagi, namun melihat Kyuhyun yang masih memasang wajah ‘bengis’ nya itu tawaku malah semakin menjadi.

Kyuhyun menghela nafasnya. Lalu mengeluarkan pertanyaan yang mampu membuat tawaku terhenti secara mendadak.

“Hyeri-ah, benar tadi kau menguping pembicaraanku dengan Heechul Hyung?”

Kini giliranku yang menghela nafas. Mau tidak mau aku harus jujur tentang semuanya.

“Err, nae. Tapi tidak semuanya seperti yang Heechul Oppa bilang. Aku mulai menguping pembicaraan kalian saat kau mengatakan, ‘Seharusnya aku bisa mengatakannya pada Hyeri lebih cepat’. Itupun karena aku penasaran kenapa kau menyebut-nyebut namaku.”

Aku melirik Kyuhyun, ingin tahu bagaimana responnya setelah mendengar perkataanku tadi. Kulihat, ia mengeluarkan ekspresi wajah yang tidak bisa kutebak.

“Syukurlah kau tidak menguping pembicaraan kami dari awal,” setelah beberapa saat hanya terdiam, akhirnya Kyuhyun membuka suaranya. Aku mengangkat sebelah alisku, menunggu ia menjelaskan maksud dari ucapannya tadi. Namun bukannya menjelaskan, ia malah mengubah topik pembicaraan kami.

“Ngomong-ngomong, chukhae.”

“Hm? Kau memberiku chukhae atas apa?”

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya gemas. “Pura-pura tidak tahu? Kemarin kau dan Ryeowook Hyung sudah resmi berpacaran kan? Chukhae.”

Aku mendesah. Kenapa malah membahas soal ini?

Aku tersenyum kikuk. “Nae, gomawo.”

“Kupikir kau akan menolaknya,” pandangan Kyuhyun mulai menerawang. “kemarin kau bilang hanya menganggapnya sebagai Oppa kan? Dan kemarin… Kau juga bilang kau tidak menaruh perasaan apapun terhadapnya.”

“Ya,” aku mengangguk-angguk membenarkan ucapannya. “tapi terkadang perasaan bisa berubah secara mendadak tanpa kita sadari,”

“aku merasa, aku mulai mencintai Ryeowook Oppa saat kemarin mengatakan ia mencintaiku.”

“… Begitukah?” tanya Kyuhyun masih dengan pandangannya yang menerawang. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, tapi yang pasti saat itu pandangannya mendadak berubah kosong.

Aku mengangguk lagi. Sejujurnya, semua yang kukatakan itu bohong. Aku tidak mungkin mengatakan alasan yang sesungguhnya kenapa aku menerima Ryeowook Oppa kemarin. Tidak akan pernah mungkin kukatakan pada siapapun selamanya.

Kyuhyun berjalan mendekatiku, dan menepuk pundakku pelan. “Kalau begitu, kudoakan kau langgeng dengan Ryeowook Hyung,” katanya. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapannya. Tanpa sengaja mata pria itu melirik jam di tangan kirinya, seketika itu juga ia berdecak. “Aigoo~ aku harus pergi sekarang. Aku ada perlu dengan seseorang,” pandangannya lalu teralih padaku. Dan secara tiba-tiba tangannya mengacak-ngacak rambutku.

“Aku pergi dulu, Manager-ssi. Annyeong!”

“YA!” teriakan Kyuhyun yang cukup keras itu mampu membuatku terkesiap kaget. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, kemudian memandang Kyuhyun dengan alis yang terangkat sebelah. Seolah mengatakan, ‘Kenapa berteriak, eh?’

“Kau ini sedang menyuapiku atau sedang melamun?!”

Saat ia melontarkan pertanyaan itu, baru kusadari sendok berisi bubur yang mulanya akan aku suapkan ke mulutnya malah ku arahkan ke hidungnya. Dan hal itu membuat hidungnya di penuhi oleh bubur. Aku berusaha untuk menahan tawaku agar tidak meledak.

“Ah! Mianhae!” aku mengambil sebuah tisu yang ada di meja sebelah tempat tidur Kyuhyun, kemudian membersihkan hidungnya itu. Ia menyeringai jijik sambil mengerucutkan mulutnya, dan itu semakin membuatku tidak dapat menahan tawaku. Pria ini sedang sakit, tapi aku malah membuatnya kesal seperti ini.

“Kau memang tidak cocok menjadi babysitter, Manager-ssi,” ucapnya sambil menggetok pelan kepalaku. Perkataannya itu sontak membuat emosiku tersulut secara mendadak. “Ya! Tidak ada yang menyuruhmu untuk menjadikanku babysitter-mu hari ini!” kemudian aku meletakkan mangkuk yang masih terisi setengah bubur itu tepat di kedua tangannya yang bebas. “Kau punya tangan kan? Kalau begitu habiskan makanan ini sendiri! Kau kan bukan bayi yang harus kusuapi!”

Shireo!” lagi-lagi ia berteriak. “Kau sudah kusuruh untuk menyuapiku, dan kau harus menurut!”

Aku menggembungkan kedua pipiku, suatu kebiasaan yang sering aku lakukan saat aku sedang kesal. Seenaknya saja pria ini berbicara!

Tiba-tiba Kyuhyun terbahak. “Jangan menggembungkan pipimu seperti itu, kau pikir kau itu imut?” tanyanya yang membuatku menatapnya dengan pandangan membunuh. Jinjja… Rasanya ingin sekali aku menggantung si bodoh ini!

“Jangan tanggapi omonganku, aku hanya bercanda,” katanya yang masih saja terbahak. “Baiklah, aku akan makan sendiri.”

Kemudian ia mulai menghabiskan bubur itu dengan tangannya sendiri, tapi di saat sendok terakhir, secara tiba-tiba ia menghentikan kegiatan makannya itu.

“Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalau kau sudah putus dengan Ryeowook Hyung.”

Air mukaku mendadak berubah mendung mendengar perkataannya.

“Cepat habiskan makananmu, Kyuhyun-ah,” kataku cepat, berusaha untuk mengabaikan omongannya tadi. Entahlah, setelah 3 hari putusnya aku dengan Ryeowook Oppa, aku masih saja tidak bisa kalau di ajak membahas soal itu.

Jangankan membahas, mendengar nama Ryeowook Oppa saja sudah mampu membuat perasaanku kacau balau secara mendadak.

Kyuhyun menuruti ucapanku, ia menghabiskan dengan cepat sendok terakhir buburnya. Setelah habis, ia meletakkan mangkuk bubur itu di meja sebelah tempat tidurnya. Sambil meminum air mineralnya, ia kembali membahas soal itu. Membuatku jengah.

“Kenapa putus? Apa ada masalah di antara kalian?”

Aku menghela nafasku sejenak. “Tidak ada,” kataku berbohong. Bagaimana mungkin aku mengatakan kalau masalah putusnya aku dan Ryeowook Oppa itu karena pria bodoh di depanku ini?

Kyuhyun tertawa kecil. “Kau boleh bilang aku jahat. Tapi aku sangat senang ketika mendengar kabar kalau kau sudah putus dengan Ryeowook Hyung.”

Aku mengangkat sebelah alisku. “Senang?”

Tanpa kusadari, tangan Kyuhyun bergerak meraih tanganku yang bebas ke dalam genggamannya.

Saranghae.”

Kedua mataku membola mendengar pernyataannya barusan. Entah kenapa mendadak aku lupa bagaimana caranya bernafas. Ya Tuhan, apa pendengaranku sedang rusak sekarang? Bagaimana bisa pria ini mengucapkan kata itu padaku?

“Seharusnya aku mengucapkan hal itu 2 tahun lalu, tapi Ryeowook Hyung malah mendahuluiku,” Kyuhyun tertawa lagi, kali ini tanpa memandangku.

“Apa kau tahu bagaimana bahagianya aku saat 2 tahun lalu kau bilang padaku, kau tidak menaruh perasaan apapun terhadap Ryeowook Hyung? Saat itu, aku merasa seperti kedapatan durian runtuh, kupikir aku masih ada kesempatan untuk mendapatkanmu,”

“Tapi besoknya, Heechul Hyung malah mengabariku kalau kau dan Ryeowook Hyung telah resmi berpacaran. Kau pasti tidak tahu, bagaimana frustasinya aku saat mendengar itu. Bagaimana sakit yang aku rasakan di sini,” Kyuhyun mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk dadanya.

“Kupikir aku bisa merelakanmu setelah aku tahu kau dan Ryeowook telah berpacaran, tapi ternyata tidak semudah itu,”

“Kau, benar-benar terlalu berarti untuk aku relakan pergi dari hatiku.”

“Hentikan,” selaku cepat. Aku tidak ingin mendengar lagi segala perkataan pria itu. Entahlah, seperti ada gumpalan di dadaku yang membuatku sesak ketika aku mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Kenapa setelah 2 tahun ini, aku baru tahu kalau dia juga mencintaiku?

Mianhae, tapi aku harus pergi sekarang. Ada… Yang mesti kuurus,” kataku beralasan. Aku sudah ingin beranjak pergi dari kamar Kyuhyun saat tangan itu secara refleks memegang lenganku, menahanku pergi.

“Jangan pergi, dengarkan aku dulu, Hyeri-ah,” ia menarik paksa lenganku, aku yang kehilangan keseimbangan, akhirnya jatuh terduduk di tempat tidurnya. Tepatnya, di sebelahnya.

“Aku mencintaimu,” katanya lagi penuh dengan penekanan. Kedua matanya itu kini sedang menatapku dalam-dalam, membuatku jengah karena terus di pandang seperti itu.

“2 tahun lalu, kau pernah bilang kan, saat Ryeowook Hyung mengatakan kalau ia mencintaimu, perasaanmu terhadapnya berubah secara mendadak? Ya kan?”

Aku mengangguk.

“Apa saat aku mengatakan aku mencintaimu tadi perasaanmu terhadapku telah berubah?”

Perasaanku terhadapmu sejak 2 tahun lalu memang tidak pernah berubah Cho Kyuhyun-ssi…

Aku membuang pandanganku darinya. Untuk beberapa saat aku hanya mengunci mulutku, entah kenapa rasanya susah sekali untuk mengatakan aku juga mencintainya, sejak 2 tahun lalu.

Bayangan wajah Ryeowook Oppa yang dari tadi terus saja berputar-putar di otakku seperti virus yang membuat mulutku tidak bisa berbicara apapun.

Aku tidak ingin menyakiti Ryeowook Oppa lagi…

“Hyeri-ah,” panggil Kyuhyun. Ia mengangkat daguku, memalingkan wajahku ke wajahnya, dan ‘memaksaku’ untuk terus menatap kedua matanya.

“2 tahun ini aku sudah merelakanmu untuk Ryeowook Hyung. Dan mulai detik ini, aku berjanji tidak akan pernah merelakanmu lagi untuk siapapun.”

Setelah mengatakan itu, Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajahku. Entah karena kinerja otakku sedang melambat atau apa sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa ketika bibir Kyuhyun dengan lembut melumat bibirku. Aku bahkan tidak bisa memejamkan kedua mataku.

Ryeowook dengan cepat menutup pintu kamar itu ketika maknaenya itu mencium gadisnya–ralat, mantan gadisnya. Semua kata-kata yang Kyuhyun lontarkan pada Hyeri tadi sudah cukup membuat jantungnya berdenyut sakit. Dan ia tidak ingin jantungnya makin terasa sakit, saat ia melihat secara langsung kedua orang itu…

Entahlah, yang pasti sampai saat ini perasaannya pada gadis itu tidak bisa hilang dari hatinya. Bukan tidak bisa, tapi belum.

2 tahun. Hanya 2 tahun. Dan ia amat sangat bersyukur bisa memiliki gadis itu walaupun hanya 2 tahun.

Walaupun dalam 2 tahun itu gadis itu tidak mencintainya secara seutuhnya, tapi ia tetap bersyukur.

“Wook-ah!”

Ryeowook terkesiap kaget mendengar namanya di panggil seseorang. Entah sejak kapan saja Yesung sudah berdiri di sebelahnya.

“Aku tahu ini pasti berat untukmu,” katanya berempati. Tangannya menepuk-nepuk pundak Ryeowook, mencoba memberi sedikit semangat untuk dongsaeng kesayangannya itu.

“Ya, Hyung,” Ryeowook tersenyum kecil. “dan aku berusaha untuk tidak menjadi orang yang egois.”

Yesung tersenyum mendengar perkataan Ryeowook.

“Tapi entah kenapa, aku sangat berharap, aku bisa berada di posisi Kyuhyun. Aku ingin sekali merasakan di cintai oleh gadis yang kucintai,” pandangan Ryeowook mulai menerawang.

“Tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk dicintai gadis yang kau cintai,” sela Yesung cepat. “kau cukup menjadi dirimu sendiri. Aku percaya, suatu saat nanti akan ada gadis yang mencintaimu seutuhnya.”

Ryeowook menghela nafasnya. “Kau benar…”

Yesung mengacak-ngacak rambut Ryeowook dengan gemas. “Sudah, jangan terus memasang tampang patah hati begitu,” ucapnya sambil tertawa kecil.

“Aku punya banyak kenalan gadis single, nanti akan kukenalkan mereka padamu. Yaa, mungkin saja salah satu dari mereka ada yang menarik di matamu.”

Ryeowook terbahak, Hyung-nya yang satu ini selalu punya seribu satu cara untuk membuatnya merasa terhibur saat ia sedang merasa sedih. Seperti sekarang ini.

“Haha, boleh juga. Tapi jangan nanti, bagaimana kalau sekarang, Hyung?”

-end-

 

/sujud syukur/

YA TUHAAAAAAANNN… Akhirnya setelah perjuangan yang berat selama 3 hari ini, akhirnya gw bisa nyelesein ini ff!

Suatu keajaiban karena biasanya gw kalo bikin ff endingnya selalu aja ngegantung, gak pernah selesai .___.

Sedikit bocoran, ff ini adalah kisah nyata antara gw-Kyuhyun-Ryeowook (?) Huahaha.

Setelah 2 tahun lebih gw ngepens sama Ryeowook, akhirnya gw pindah bias ke Kyuhyun .___.

Dan tau gak sih? Ff ini tercipta secara tiba-tiba, gw aja gak nyangka ff ini bakalan ada, karena idenya aja datang secara tiba-tiba. Haha.

Sekian deh curcol authornya soal ff ini. Bagi yang udah baca ini ff, author mohon bangeeeeettt komennya  yaa 🙂 jangan jadi silent reader dong yaa plis yaa /mohon-mohon sambil sujud/

xoxo, Istrinya Kyuhyun

Advertisements

About sehvnhan

Just a little girl who lives in her imagine world.

Posted on December 20, 2011, in 2 Years, Fanfiction, Oneshoot and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. KEREN CHINGU *O*

  2. keren? hihi gomawoyo chingu 😀

  3. FFnya kerenn Tapi gue kasian ma Ryeowook Oppa.. Nasibnya tragis banget sih.. Apa lagi ternyata kesannya si Hyeri sukanya ma Ryeowook Oppa karena ‘terpaksa’, gue jadi ngerasa gimana gitu. Gak tega banget Wokkie oppa yang polos diginiin.. Hikz.. Hikz.. Hikz.. #nangis dipelukan Kyuhyun Oppa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: